PERSPEKTIF GLOBAL
BAB IPENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bumi merupakan salah satu kumpulan partikel-partikel yang kemudian membentuk bulatan yang besar dan akhirnya menjadi Big Home bagi manusia dan mahkluk hidup. Big Partikel ini mempunyai berbagai diversity mulai dari manusia yang dianggap sebagai aktor penting dalam kelangsungan bumi serta flora dan fauna yang mendiami The Big Home ini. Tentu, dari berbagai diversity tersebut benar dikatakan serumah, tetapi rumah tersebut benar-benar besar, belum lagi antar penghuni terperinci menjadi beberapa klasifikasi, ada yang namanya Negara, kota, desa, tumbuh-tumbuhan, hewan dan lain-lain. Negara juga terdiri dari berbagai bangsa. Bangsa merupakan jiwa yang mengandung kehendak bersatu (Le Desir D’etre Ensamble) (Rinan Ernest dalam Depdagri, 2003:9) dengan multyculturalise yang tinggi, contoh Indonesia dan ada juga Negara yang mempunyai multuculturalisme yang rendah contoh Amerika, Malaysia dan lain sebagainya. Tetapi pada dasarnya kita merupakan saudara bahkan sekeluarga yang mendiami The Big Home yaitu Bumi.
Untuk memperlancar dan untuk menjaga hubungan baik antar anggota keluarga yang tak lain adalah Negara-negara, jadi sangat diperlukan interaksi baik yang bernada verbal maupun yang bernada non verbal. Pola interaksi antar Negara sekarang sudah mengalami pada suatu titik yang holistic dengan tanda adanaya globalisasi yang terus berkembang. Unutk tetap menjaga hubungan baik antar Negara dan antar bangsa antar Negara perlu suatu jiwa yang mempunyai nilai bersatu, jangan sampai kenyataan pahit yang dilanda oleh Indonesia juga dialami oleh Negara lain yang tidak lain adalah saudara. Untuk itu perlu semua memahami begitu bermacam-macam bentuk dan arti disekeliling kita dengan perspektif global kita belajar membentuk kepribadian untuk mencapai Global Building yang berhasil.
Untuk mencapai itu perlu upaya atau langka-langkah kongrit baik itu langkah yang mengambil jalan pendidikan, politik, sosial maupun budaya. Oleh karena itu kami menyusun makalah ini sebagai upaya kami untuk menguak tentang perspektif global ini secara mendasar.
B. Rumusan Masalah
• Bagaimana konsep dasar perspektif global ?
• Apa pengertian perspektif global ?
• Apa tujuan perspektif global ?
• Apa saja elemen-elemen perspektif global ?
BAB II
PEMBAHASAN
Hakikat dan Konsep Perspektif Global
Untuk memahami lebih lanjut tentang perspektif global perlu untuk memahami beberapa istilah yang berkaitan dengan prspektif global yaitu, Multycultural, global ,globalisasi, Fenomenon The Small World,
1. Multycultural
Dalam kontek kehidupan yang mempunyai nilai diversity sangat tinggi ini, pemahaman yang berdimensi multycultural harus dihadirkan untuk memperluas wacana pemikiran manusia yang selama ini masih mempertahankan “egoism”. Haviland mengatakan bahwa multicultural dapat diartikan sebagai pluralitas kebudayaan dan bangsa. Dengan demikian memelihara pluralitasakan mencapai kehidupan yang ramah dan penuh perdamaian. Secara ideal multiculturalisme berarti penolakan terhadap kefanatikan, purbasangka, dan menerima secara baik keanekaragaman yang ada (William A. Haviland, terj 1988:289). Fay (1998:3) mengemukakan bahwa Multyculturalism menunjukan suatu yang krusial dalam dunia kontemporer. Dalam dunia multicultural harus mementingkan adanya berbagai perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya dan ada interaksi social diantara mereka.Para multikulturalis memfokuskan pada pemahaman dan hidup bersama dalam kontek social budaya yang berbeda.
2. Global
Menurut kamus Bahasa Inggris Longman Dictionary of Contemporary English, menartikan Global dengan “concerning the whole earth”. Sesuatu yang berkaitan dengan dunia, internasional atau seluruh alam jagat raya.
3. Globalisasi
Globalisasi mengandung pengertian proses. Huckle (Miriam Steiner, 1996) menyatakan bahwa globalisasi adalah suatu proses dengan mana kejadian, keputusan dan kegiatan disalah satu bagian dunia menjadi suatu konsekuensi yang signifikan bagi individu dan masyarakat di daerah yang jauh. Ahli lainya Albrow (yaya, 1998) mengemukakan bahwa globalisasi adalah keseluruhan proses dimana manusai di bumi ini diinkorporasikan ke dalam masyarakat dunia tunggal, masyarakat global.
Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang internet public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia hingga muncul istilah The Fenomenon small world. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.
Tentu saja globaisasi membawa berbagai dampak, ada yang bersifat positif maupun yang negative, sebagaimana yang dikemukakan oleh Tilaar (1998) positifnya munculnya masyarakat Megakompetisi. Negatifnya ancaman bagi budaya local yang akan tergantikan oleh budaya global. Sedang ciri-ciri globalisasi menurut Tilaar adalah adanya pasar bebas, berkembangnya nilai demokrasi, menghormati HAM.
4. Fenomenon The Small World
Fenomenon The Small World merupakan titik kelanjutan dari adanya globalisasi dengan ditandai dengan pesatnya IPTEK. Seakan-akan dunia ini tanpa sekat dan dengan bebas melakukan jejaring social antar penduduk atau individu di Negara satu dengan yang lain.
Contoh eksperimen the small world
Eksperimen The small world terdiri dari beberapa percobaan yang dilakukan oleh Stanley Milgram yang mengamati cara interaksi dan jaringan social yang dilakukan oleh orang Amerika. Eksperimen Milgram berkembang dari keinginan untuk mempelajari lebih lanjut tentang probabilitas bahwa dua orang yang dipilih secara acak akan mengenal satu sama lain. Ini adalah salah satu cara memandang masalah dunia kecil. Pandangan alternatif tentang masalah ini adalah untuk membayangkan penduduk sebagai jaringan sosial dan berusaha untuk menemukan pola interaksiatau panjang hubungan pengenalan antara dua node. Percobaan Milgram ini dirancang untuk mengukur panjang jalan hubungan. Eksperimen Milgram dalam budaya popular saat ini dapat diliohat dengan adanya Facebook, Friendster, MySpace, XING, Orkut, Cyworld, Bebo, Twitter dan lain-lain.
5. Pengertian dan Tujuan Perspektif Global
Dari wacana yang sudah dipaparkan diatas jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, jadi dapat disimpulkan bahwa perspektif global adalah suatu pandangan , dimana guru dan murid secara bersama-sama mengembangkan perspetif dan keterampilan untuk menyelidiki suatu yang terkait dengan isu global. Perspektif global adalah suatu cara pandang dan cara berfikir terhadap suatu masalah, kejadian atau kegiatan dari sudut kepentingan global, yaitu dari sisi kepentingan dunia atau internasional.
Sadar atau tidak sadar bahwa individu dibentuk dengan pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia. Perspektif global adalah pendekatan menyeluruh (Holistik) yang menghubungkan masyarakat atau individu dengan dunia. Dengan demikian tujuan dari perspektif global adalah :
a. Mendorong untuk mempelajari lebih banyak tentang materi dan masalah yang berkaitan dengan masalah global.
b. Mendorong untuk memahami multicultural atau lintas budaya
c. Memahami dan mengembangkan makna perspektif global baik dalam kehidupan sehari-hari.
6. Elemen-elemen perspektif global
Penduduk dunia
merupakan elemen penting yang menjadi subyek utama munculnya isu-isu global.
Lingkungan
menjadi wadah atau tempat di mana penduduk dunia saling berinteraksi, sehingga muncul isu atau permasalahan global.
Iptek
sebagai sarana utama dalam mendorong penduduk dunia dalam mengetahui berbagai isu global.
Pendidikan perspektif global
Untuk memberikan penjelasan lebih rinci mengenai cara pandang terhadap permasalahan global dalam era globalisasi.
7. Pendidikan di era global (Lebih Baik Tidak Sekolah)
Pendidikan dan esensi dari pendidikan merupakan suatu upaya merubah sikap yakni memanusiakan manusia. Sistem persekolahan di negeri ini baru bisa menghasilkan “orang-orang lemah”. Ciri-ciri orang yang lemah adalah rendah daya inisiatif dan kreatifitasnya, rendah daya percaya diri, tidak berdaya dan pada ujungnya tidak sanggup untuk menggapai mandiri. Orang yang lemah akan menggantungkan hidupnya pada yang kuat, bisa orang, bisa barang, perusahaan atau Negara.maka tidak mungkin terelakkan pada saat ada lowongan pekerjaan baik itu swasta maupun negeri, orang-orang lemah ini akan berpondong-pondong, berdesak-desakan untuk mendapat kesempatan memasukan ijazah mereka demi pekerjaan. Ada yang lebih menarik lagi, ketika sebuah pabrik tekstil membuat persyaratan bagi calon karyawan/ti. Mereka disyaratkan untuk berijazah SMA atau yang sederajat, belum menikah bahkan sampai ukuran tinggi badan. Sebagian kecil yang diterima ternyata dipekerjakan dibagaian yang sangat mekanis (benang dan jarum, seleksi produksi, menyeterika, melipat) yang semuanya itu tidak ada relevansinya dengan ijazah mereka. Pekerjaan mekanis seperti itu bisa dilakukan oleh siapa pun yang mau tanpa harus berijazah SMA.
Kalau sekolah hanya melahirkan orang-orang yang lemah dan individualis, yang bersaing tapi selalu ingin menang dan ingin mengungguli yang lain tanpa ada rasa ingin mengingat bahwa kita perlu yang namanya saling mengisi dan memperbaiki, maka sangat mungkin sekali pengangguran terpelajar akan menumpuk dan “membludak” di Indonesia yang indah ini, katanya (Media).
Disisi lain masyarakat tidak butuh yang namanya UU yang hanya indah diucapkan dan didengarkan tetapi butuh riil action dari pemerintah untuk memperbaiki system sekolah yang sangat feodal dan kapitalis, dimana rakyat kecil sangat susah untuk sekolah apalagi kuliah. Karena biaya yang mahal tentunya. Ingin menjadi pengangguran terpelajar kok susah.
Sistem pendidikan era global ini sangat mengebiri dan memangkas habis kreatifitas siswa, sekolah sebagai siksaan yang tak tertahankan dan fungsi guru telah berubah menjadi fungsi pawing yang bisa menekan dan menguasai anak didiknya maka kembalikan pawing itu menjadi guru lagi (Romo YB Mangunwijaya). Ketika ada inovasi yang terjadi bukan seatu perbaikan malah lebih kearah kebingungan, bahkan lebih kontradiktif dengan tataran aplikasinya, maka munculah fenomena bisnis pendidikan di Indonesia.
Diera global ini sekolah hampir tidak member ruang yan cukup untuk berkembangnya potensi individu dan nilai-nilai pluralis. Siswa menjadi objek yang harus dibentuk menurut selera guru. Sekolah telah membuat siswa menjadi bukan dirinya dan terasing dari realitas kehidupan. “sekolah telah menjadi mean Base untuk mengasingkan siswa atau individu dari realitas kehidupan”.
Siswa dituntut untuk mendapat nilai A atau 8 bahkan,9 dan 10 di ijazahnya, maka ini adalah tindakan dan pola pemikiran yang sangat fatal dan Bobrok. Dengan pemikiran diatas maka yang terjadi adalah siswa atau mahasiswa akan bersifat picik, licik, dan cenderung instan.
Diatas merupakan beberapa realitas pendidikan yang berbau feudal dan capitalism. Maka perlu untuk kembali ke esensi awal pendidikan yakni memanusiakan manusia yang berpedoman pada UUD 45 atau norma dan pancasila.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bumi merupakan salah satu kumpulan partikel-partikel yang kemudian membentuk bulatan yang besar dan akhirnya menjadi Big Home bagi manusia dan mahkluk hidup. Untuk memperlancar dan untuk menjaga hubungan baik antar anggota keluarga yang tak lain adalah Negara-negara, jadi sangat diperlukan interaksi baik yang bernada verbal maupun yang bernada non verbal. . Untuk itu perlu semua memahami begitu bermacam-macam bentuk dan arti disekeliling kita dengan perspektif global kita belajar membentuk kepribadian untuk mencapai Global Building yang berhasil.
Selain diatas kita harus mengetahui apa yang dimaksud dengan perspektif global secara mendasar serta bagaimana menumbuhkan kesadaran bumi atau dunia yang begitu luas dan komplek ini dapat menjadi sempit atau telah menjadi sempit dan sederhana disebabkan oleh IPTEK. Untuk memahami lebih lanjut tentang perspektif global perlu untuk memahami beberapa istilah yang berkaitan dengan prspektif global yaitu, Multycultural, global ,globalisasi, Fenomenon The Small World. Dalam kontek kehidupan yang mempunyai nilai diversity sangat tinggi ini, pemahaman yang berdimensi multycultural harus dihadirkan untuk memperluas wacana pemikiran manusia yang selama ini masih mempertahankan “egoism”. Haviland mengatakan bahwa multicultural dapat diartikan sebagai pluralitas kebudayaan dan bangsa. Dengan demikian memelihara pluralitasakan mencapai kehidupan yang ramah dan penuh perdamaian.
Sedangkan Global, Menurut kamus Bahasa Inggris Longman Dictionary of Contemporary English, menartikan Global dengan “concerning the whole earth”. Sesuatu yang berkaitan dengan dunia, internasional atau seluruh alam jagat raya. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Fenomenon The Small World merupakan titik kelanjutan dari adanya globalisasi dengan ditandai dengan pesatnya IPTEK. Seakan-akan dunia ini tanpa sekat dan dengan bebas melakukan jejaring social antar penduduk atau individu di Negara satu dengan yang lain. Dari wacana yang sudah dipaparkan diatas jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, jadi dapat disimpulkan bahwa perspektif global adalah suatu pandangan , dimana guru dan murid secara bersama-sama mengembangkan perspetif dan keterampilan untuk menyelidiki suatu yang terkait dengan isu global.
Sadar atau tidak sadar bahwa individu dibentuk dengan pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia. Perspektif global adalah pendekatan menyeluruh (Holistik) yang menghubungkan masyarakat atau individu dengan dunia. Dengan demikian tujuan dari perspektif global adalah :
a. Mendorong untuk mempelajari lebih banyak tentang materi dan masalah yang berkaitan dengan masalah global.
b. Mendorong untuk memahami multicultural atau lintas budaya
c. Memahami dan mengembangkan makna perspektif global baik dalam kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka
Hanum, Farida. Rintisan Implementasi Pendidikan Multikultural di sekolah dalam Membangun Perilaku Bangsa. Dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar. 2009.Yogyakarta. UNY.
Sujono, Samba.2007. Lebih Baik Tidak Sekolah. LKiS Pelangi Aksara. Yogyakarta.
Sumaatmadja, Nursid dan Wihardit, Kuswaya. 2002
